Twitter
RSS
Tampilkan postingan dengan label Kontroversi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kontroversi. Tampilkan semua postingan

Kontroversi Musik Metal

0


Dimana-mana musik metal selalu menjadi kontroversi dan sebuah persepsi negatif di mata masyarakat. Karena dari segi penampilan dan gaya bermusik orang menilainya sangar. Musik metal selalu di identikkan dengan musik underground dimana mereka menilai musik ini musik yang urakan,anarkis,liriknya kasar,identik dengan kekerasan dan mabok-mabokan.
Selalu di anak tirikan dah di remehkan,banyak sekali pihak-pihak label yang sangsi akan aliran musik jenis ini,alasan mereka musik jenis ini nggak komersil yang bisa mendatangkan banyak keuntungan buat pihak label. Padahal kalau mau diperhatikan penggemar musik jenis ini nggak bisa dikatakan sedikit,walau memang kebanyakan penggemar aliran musik jenis ini adalah kaum muda.
Sebenernya orang-orang yang suka musik metal (underground) itu gak harus selalu identik dengan kekerasan,mabok-mabokan,dsb. Coba lihat seperti bahasan saia yang lalu tentang band metal religius PURGATORY yang hampir kebanyakan lirik-liriknya di ambil dari ayat-ayat alquran,dan juga TENGKORAK yang selalu rajin mengadakan pengajian seminggu sekali. Intinya jangan hanya sekedar menilai sesuatu dari tampilan luarnya saja. Betapa rendah sekali orang yang hanya menilai sesuatu hanya dari
penampilan luar saja.
Musik metal memang tidak bertemakan tentang cinta dengan pasangan kita seperti yang dinyanyikan “band-band ratusan keping”,tetapi musik metal menawarkan kesan cinta yang lain,contohnya cinta terhadap sesama manusia,cinta terhadap tanah air,sosial politik bahkan sampe tema-tema tentang kematian juga dijadikan ispirasi untuk lagu-lagu metal.
Ngomong musik metal memang tidak bisa di pisahkan dari Black Metal,dimana notabene musik black metal sangat kental dengan nuansa Satanisme. Kesan satanisme di dalam aliran musik black metal adalah cuma sebagai gambaran ciri khas, image, agar terlihat lain operatical, teatrical, dan lebih dramatical, memang extreme sih kelihatannya.., tapi VENOM dedengkotnya band black metal Sendiri bilang itu hanya sekedar gimmick aja. itu tidak sungguh2 satanism.. sama sekali tidak seperti yang di bayangkan selama ini. yang menyembah dan memuja setan atau iblis.
Tujuan tulisan ini hanyalah sekedar opini semata,kalaupun ada yang tidak suka maupun keberatan dengan besar hati saia akan meminta maaf.

Metal is not a crime

Pada intinya para pendengar musik metal menuntut kedewasaan
dan kebijakan para pendengarnya
mau itu memuja setan kek, memuja sapi kek, seharusnya kita tidak terpengaruh sama liriknya
saya pribadi menyukai beberapa musik metal seperti cannibal corpse, disgorge, cradle of filth, venom, dying fetus, anal cunt, devourment, carcass, extreme noise terror, mortician ,dan masih banyak lagi (itu bukan beberapa ya.. hehehe..)
tapi tetep aja lirik dan gaya hidup mereka ga ngaruh ke dalam kepribadian saya
dan saya tidak suka sampah kayak marilyn manson yg sok anti Tuhan tapi lagunya cemen
mending cradle of filth yg sekarang udah mulai komersil musiknya keras pas dengan liriknya ‘contoh(christ you *******!!!)
saya anggap semua itu hanya sebagai sensasi di dunia musik…
mendengarkan musik seperti ini memerlukan kedewasaan serta iman extra tinggi, bukannya tidak boleh menikmati musik metal, karena Tuhan jugalah yang mengijinkan musik metal berkembang sampai sekarang… Tapi musik seperti ini tidak untuk dikonsumsi oleh manusia2 beriman tempe
kita harus memiliki prinsip di dalam hidup
btw ada yg pernah denger Extol (technical christian death metal) ini cocok buat yang takut denger musik2 setan tapi suka yang metal2…

SALAM TIGA JARI ADALAH SALIB

0

Apakah anda tau tentang salam 3 jari belakangan ini. pengutip bukan untuk bermaksud mengadu domba kepada pengagum musik metal atau yang lainnya.
Salam 3 jari diambil dan melambangkan singkatan Yunani I X C (Iesus Christus Soter, Yesus Kristus Juruselamat). seperti ini ceritanya.
Tanda Salib merupakan suatu gerakan yang indah, yang mengingatkan umat beriman pada salib keselamatan sembari menyerukan Tritunggal Mahakudus. Secara teknis, Tanda Salib merupakan sakramentali, suatu lambang sakral yang ditetapkan Gereja guna mempersiapkan orang untuk menerima rahmat, dan yang menguduskan suatu saat atau peristiwa. Seiring pemikiran tersebut, gerakan ini telah dilakukan sejak masa Gereja Perdana untuk memulai dan mengakhiri doa serta Misa.
Para Bapa Gereja awali menegaskan penggunaan Tanda Salib. Tertulianus (wafat 250) menggambarkan kebiasaan membuat Tanda salib: “Dalam segala kegiatan dan gerakan, setiap kali kami datang maupun pergi, saat mengenakan sepatu, saat mandi, saat makan, saat menyalakan lilin, saat berbaring, saat duduk, dalam segala apapun yang kami lakukan, kami menandai dahi kami dengan Tanda Salib” (De corona, 30).
St. Sirilus dari Yerusalem (wafat tahun 386) dalam Pengajaran Katekesenya menyatakan, “Jadi, marilah kita tanpa malu-malu mengakui Yang Tersalib. Jadikan Salib sebagai meterai kita, yang dibuat dengan mantap menggunakan jari-jari di dahi kita dan dalam segala kesempatan; atas roti yang kita makan dan cawan yang kita minum, saat kita datang dan saat kita pergi; sebelum kita tidur, saat kita berbaring dan saat kita terjaga; saat kita bepergian, dan saat kita beristirahat” (Katekese, 13). Lama-kelamaan, Tanda Salib dimasukkan dalam berbagai tindakan dalam Misa, misalnya menandai diri tiga kali di dahi, bibir dan hati saat Injil hendak dibacakan atau saat menyampaikan berkat dan saat menandai roti dan anggur persembahan yang dimulai sekitar abad kesembilan.
Cara resmi paling awal dalam membuat Tanda Salib muncul sekitar tahun 400-an, yaitu saat munculnya bidaah Monophysite yang menyangkal adanya dua kodrat dalam pribadi ilahi Kristus, dan dengan demikian menyangkal persekutuan Tritunggal Mahakudus. Tanda Salib dibuat dari dahi ke dada, dan kemudian dari bahu kanan ke bahu kiri. Ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah ditangkupkan sebagai lambang Tritunggal Mahakudus - Bapa, Putra dan Roh Kudus. Di samping itu, ketiga jari ditangkupkan sedemikian rupa hingga melambangkan singkatan Yunani I X C (Iesus Christus Soter, Yesus Kristus Juruselamat): jari telunjuk yang lurus melambangkan I; jari tengah saling bersilangan dengan ibu jari melambangkan X; dan jari tengah yang bengkok melambangkan C. Jari manis dan jari kelingking dilipat ke arah telapak tangan, melambangkan kesatuan kodrat manusia dan kodrat ilahi, kehendak manusia dan kehendak ilahi dalam pribadi Kristus. Cara membuat Tanda Salib seperti ini umum dilakukan di kalangan seluruh Gereja hingga sekitar abad keduabelas, tetapi hingga sekarang masih tetap dipraktekkan dalam Gereja-gereja Katolik Ritus Timur dan Gereja-gereja Orthodox.
Suatu instruksi dari Paus Inosensius III (1198 - 1216) membuktikan adanya tradisi praktek tersebut, sekaligus menunjukkan adanya perubahan dalam praktek Gereja Katolik Ritus Latin, “Tanda Salib dibuat dengan tiga jari, sebab penandaan diri tersebut dilakukan sembari menyerukan Tritunggal Mahakudus…. Beginilah cara melakukannya: dari atas ke bawah, dan dari kanan ke kiri, sebab Kristus turun dari surga ke bumi, dan dari Yahudi (kanan) Ia menyampaikannya kepada kaum kafir (kiri).” Sembari memperhatikan kebiasaan membuat Tanda Salib dari bahu kanan ke bahu kiri, yang dilakukan baik oleh gereja-gereja barat maupun timur, Paus Inosensius melanjutkan, “Namun demikian, yang lain, membuat Tanda Salib dari kiri ke kanan, sebab dari sengsara (kiri) kita harus beralih menuju kemuliaan (kanan), sama seperti Kristus beralih dari mati menuju hidup, dan dari Tempat Penantian menuju Firdaus. [Sebagian imam] melakukannya dengan cara ini, sehingga mereka dan umat menandai diri mereka dengan cara yang sama. Kalian dapat dengan mudah membuktikannya - bayangkan imam menghadap umat untuk menyampaikan berkat - ketika kami membuat Tanda Salib atas umat, kami melakukannya dari kiri ke kanan…” Karenanya, sejak saat itu umat beriman mulai meniru imam dalam menyampaikan berkat, dari bahu kiri ke bahu kanan dengan tangan terbuka. Lama-kelamaan, praktek ini menjadi cara yang biasa digunakan dalam Gereja Barat.
Dalam karya klasik, “Upacara-upacara Ritus Romawi” tulisan Adrian Fortescue dan J. B. O’Connell, Tanda Salib dibuat dengan cara berikut: “Letakkanlah tangan kiri dengan telapak terbuka di bawah dada. Tangan kanan terbuka juga. Pada saat menyerukan Patris [Bapa] angkatlah tangan kanan dan sentuhkan kening; saat menyerukan Filii [Putra], sentuhlah dada agak ke bawah, tetapi di atas tangan kiri; saat menyerukan Spiritus Sancti [Roh Kudus], sentuhlah bahu kiri dan kanan; saat menyerukan Amin, tangkupkan kedua tangan jika perlu.” Meskipun praktek ini telah berkembang dari bentuk asalnya dan kini masih dipraktekkan dalam Ritus Timur, tetapi telah menjadi praktek yang biasa dilakukan pula dalam Gereja Ritus Latin selama beberapa abad.
Tak peduli bagaimana orang secara teknis membuat Tanda Salib, gerakan haruslah dilakukan dengan khidmat dan saleh. Umat beriman haruslah menyadari kehadiran Tritunggal Mahakudus, dogma inti yang menjadikan orang-orang Kristen sebagai “Kristen”. Juga, umat beriman haruslah ingat bahwa Salib adalah tanda keselamatan kita: Yesus Kristus, sungguh Allah yang menjadi sungguh manusia, yang mempersembahkan kurban sempurna bagi penebusan dosa-dosa kita di atas altar salib. Tindakan sederhana namun mendalam ini membuat setiap orang beriman sadar akan betapa besar kasih Allah bagi kita, kasih yang lebih kuat daripada maut dan akan janji-janji kehidupan abadi. Demi alasan-alasan yang tepat, indulgensi sebagian diberikan kepada mereka yang menandari dirinya dengan Tanda Salib dengan khidmat, sambil menyerukan, “Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus” (Enchirdion of Indulgences, No. 55). Oleh sebab itu, marilah setiap kita membuat Tanda Salib dengan benar dan khidmad serta tidak dengan sembarangan ataupun ceroboh.
Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a professor of catechetics and theology at Notre Dame Graduate School in Alexandria.
sumber : “Straight Answers: The Sign of the Cross” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2004 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net atas ijin The Arlington Catholic Herald.”
oleh: P. William P. Saunders
Bagaimana, masih mau pake 3 jari………..