Twitter
RSS

SALAM TIGA JARI ADALAH SALIB

0

Apakah anda tau tentang salam 3 jari belakangan ini. pengutip bukan untuk bermaksud mengadu domba kepada pengagum musik metal atau yang lainnya.
Salam 3 jari diambil dan melambangkan singkatan Yunani I X C (Iesus Christus Soter, Yesus Kristus Juruselamat). seperti ini ceritanya.
Tanda Salib merupakan suatu gerakan yang indah, yang mengingatkan umat beriman pada salib keselamatan sembari menyerukan Tritunggal Mahakudus. Secara teknis, Tanda Salib merupakan sakramentali, suatu lambang sakral yang ditetapkan Gereja guna mempersiapkan orang untuk menerima rahmat, dan yang menguduskan suatu saat atau peristiwa. Seiring pemikiran tersebut, gerakan ini telah dilakukan sejak masa Gereja Perdana untuk memulai dan mengakhiri doa serta Misa.
Para Bapa Gereja awali menegaskan penggunaan Tanda Salib. Tertulianus (wafat 250) menggambarkan kebiasaan membuat Tanda salib: “Dalam segala kegiatan dan gerakan, setiap kali kami datang maupun pergi, saat mengenakan sepatu, saat mandi, saat makan, saat menyalakan lilin, saat berbaring, saat duduk, dalam segala apapun yang kami lakukan, kami menandai dahi kami dengan Tanda Salib” (De corona, 30).
St. Sirilus dari Yerusalem (wafat tahun 386) dalam Pengajaran Katekesenya menyatakan, “Jadi, marilah kita tanpa malu-malu mengakui Yang Tersalib. Jadikan Salib sebagai meterai kita, yang dibuat dengan mantap menggunakan jari-jari di dahi kita dan dalam segala kesempatan; atas roti yang kita makan dan cawan yang kita minum, saat kita datang dan saat kita pergi; sebelum kita tidur, saat kita berbaring dan saat kita terjaga; saat kita bepergian, dan saat kita beristirahat” (Katekese, 13). Lama-kelamaan, Tanda Salib dimasukkan dalam berbagai tindakan dalam Misa, misalnya menandai diri tiga kali di dahi, bibir dan hati saat Injil hendak dibacakan atau saat menyampaikan berkat dan saat menandai roti dan anggur persembahan yang dimulai sekitar abad kesembilan.
Cara resmi paling awal dalam membuat Tanda Salib muncul sekitar tahun 400-an, yaitu saat munculnya bidaah Monophysite yang menyangkal adanya dua kodrat dalam pribadi ilahi Kristus, dan dengan demikian menyangkal persekutuan Tritunggal Mahakudus. Tanda Salib dibuat dari dahi ke dada, dan kemudian dari bahu kanan ke bahu kiri. Ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah ditangkupkan sebagai lambang Tritunggal Mahakudus - Bapa, Putra dan Roh Kudus. Di samping itu, ketiga jari ditangkupkan sedemikian rupa hingga melambangkan singkatan Yunani I X C (Iesus Christus Soter, Yesus Kristus Juruselamat): jari telunjuk yang lurus melambangkan I; jari tengah saling bersilangan dengan ibu jari melambangkan X; dan jari tengah yang bengkok melambangkan C. Jari manis dan jari kelingking dilipat ke arah telapak tangan, melambangkan kesatuan kodrat manusia dan kodrat ilahi, kehendak manusia dan kehendak ilahi dalam pribadi Kristus. Cara membuat Tanda Salib seperti ini umum dilakukan di kalangan seluruh Gereja hingga sekitar abad keduabelas, tetapi hingga sekarang masih tetap dipraktekkan dalam Gereja-gereja Katolik Ritus Timur dan Gereja-gereja Orthodox.
Suatu instruksi dari Paus Inosensius III (1198 - 1216) membuktikan adanya tradisi praktek tersebut, sekaligus menunjukkan adanya perubahan dalam praktek Gereja Katolik Ritus Latin, “Tanda Salib dibuat dengan tiga jari, sebab penandaan diri tersebut dilakukan sembari menyerukan Tritunggal Mahakudus…. Beginilah cara melakukannya: dari atas ke bawah, dan dari kanan ke kiri, sebab Kristus turun dari surga ke bumi, dan dari Yahudi (kanan) Ia menyampaikannya kepada kaum kafir (kiri).” Sembari memperhatikan kebiasaan membuat Tanda Salib dari bahu kanan ke bahu kiri, yang dilakukan baik oleh gereja-gereja barat maupun timur, Paus Inosensius melanjutkan, “Namun demikian, yang lain, membuat Tanda Salib dari kiri ke kanan, sebab dari sengsara (kiri) kita harus beralih menuju kemuliaan (kanan), sama seperti Kristus beralih dari mati menuju hidup, dan dari Tempat Penantian menuju Firdaus. [Sebagian imam] melakukannya dengan cara ini, sehingga mereka dan umat menandai diri mereka dengan cara yang sama. Kalian dapat dengan mudah membuktikannya - bayangkan imam menghadap umat untuk menyampaikan berkat - ketika kami membuat Tanda Salib atas umat, kami melakukannya dari kiri ke kanan…” Karenanya, sejak saat itu umat beriman mulai meniru imam dalam menyampaikan berkat, dari bahu kiri ke bahu kanan dengan tangan terbuka. Lama-kelamaan, praktek ini menjadi cara yang biasa digunakan dalam Gereja Barat.
Dalam karya klasik, “Upacara-upacara Ritus Romawi” tulisan Adrian Fortescue dan J. B. O’Connell, Tanda Salib dibuat dengan cara berikut: “Letakkanlah tangan kiri dengan telapak terbuka di bawah dada. Tangan kanan terbuka juga. Pada saat menyerukan Patris [Bapa] angkatlah tangan kanan dan sentuhkan kening; saat menyerukan Filii [Putra], sentuhlah dada agak ke bawah, tetapi di atas tangan kiri; saat menyerukan Spiritus Sancti [Roh Kudus], sentuhlah bahu kiri dan kanan; saat menyerukan Amin, tangkupkan kedua tangan jika perlu.” Meskipun praktek ini telah berkembang dari bentuk asalnya dan kini masih dipraktekkan dalam Ritus Timur, tetapi telah menjadi praktek yang biasa dilakukan pula dalam Gereja Ritus Latin selama beberapa abad.
Tak peduli bagaimana orang secara teknis membuat Tanda Salib, gerakan haruslah dilakukan dengan khidmat dan saleh. Umat beriman haruslah menyadari kehadiran Tritunggal Mahakudus, dogma inti yang menjadikan orang-orang Kristen sebagai “Kristen”. Juga, umat beriman haruslah ingat bahwa Salib adalah tanda keselamatan kita: Yesus Kristus, sungguh Allah yang menjadi sungguh manusia, yang mempersembahkan kurban sempurna bagi penebusan dosa-dosa kita di atas altar salib. Tindakan sederhana namun mendalam ini membuat setiap orang beriman sadar akan betapa besar kasih Allah bagi kita, kasih yang lebih kuat daripada maut dan akan janji-janji kehidupan abadi. Demi alasan-alasan yang tepat, indulgensi sebagian diberikan kepada mereka yang menandari dirinya dengan Tanda Salib dengan khidmat, sambil menyerukan, “Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus” (Enchirdion of Indulgences, No. 55). Oleh sebab itu, marilah setiap kita membuat Tanda Salib dengan benar dan khidmad serta tidak dengan sembarangan ataupun ceroboh.
Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a professor of catechetics and theology at Notre Dame Graduate School in Alexandria.
sumber : “Straight Answers: The Sign of the Cross” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2004 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net atas ijin The Arlington Catholic Herald.”
oleh: P. William P. Saunders
Bagaimana, masih mau pake 3 jari………..

SEJARAH MUSIC METAL

0


Children of Bodom
 
Heavy metal ditemukan oleh Band veteran Tahun 60′an Steppenwolf, dalam lagu klasiknya yang berjudul ‘Born To Be Wild’ (ada di baris kedua bait kedua, “dasar maniak barang remeh-remeh!”).
“I like smoke and lightning Heavy metal thunder Racin’ with the wind And the feelin’ that I’m under”.
Tapi istilah itu belum dipakai secara tepat sampai pada tahun 1970, ketika Black Sabbath merilis album perdana klasik mereka yang berjudul ‘ Paranoid’. Cukup banyak band Heavy metal.
Dari tahun 1960-an atau bisa disebut Blues Rock seperti Led Zeppelin, AC/DC Classic metal dan disekitar 60an sampai 70′an atau disebut Classic Rock seperti Black Sabbath, Blue Oyster Cult, Deep Purple, Alice Cooper. Permainan Classic metal dimainkan kadang dengan Organ. Musiknya dikendalikan olehriff yang lebih sering dimainkan dalam tangga nada minor. Vokalisnya juga terpengaruh oleh Led Zeppelin kecuali Bapak metal Ozzy Osbourne yang dipengaruhi oleh Sirene udara.

Berbagai Sumber

Bermain Gitar - Sebuah Refleksi Dari Jiwa Anda

0

 
Gitar, baik listrik atau akustik, adalah yang paling serbaguna instrumen. Anda dapat memetik sebuah akord beberapa, mengadopsi teknik gitar klasik yang sangat disiplin, atau bermain akord progresi jazz canggih dan skala. Pilihan Anda.Apapun tas Anda, perjalanan untuk mencapai tujuan Anda dan suara mendasar adalah buzz nyata.Ini hal lucu, tapi musik tidak seperti kebanyakan kegiatan lain.Ambil contoh sepak bola, tidak ada melarikan diri dari kenyataan bahwa jika Anda ingin bermain sepak bola pro-Anda harus lebih baik menjadi baik dan tidak ada jalan pintas. Teknik dan kebugaran adalah mutlak harus. Ekspresi musik berbeda dan saham mungkin kesamaan dengan kata yang diucapkan.Sebuah kata yang dipilih dengan baik beberapa dapat jauh lebih efektif daripada gelombang pasang pernyataan lisan yang canggih. Jadi dengan bermain gitar.Jadi sebenarnya untuk mengambil papan adalah bahwa kemampuan teknis tak ada hubungannya dengan bakat musik.Jika alur Anda adalah sebuah negara yang sederhana, reggae atau blues merasa Anda dapat sangat bagus dan sangat relevan tanpa menjadi jenius teknis. Pemain sederhana yang bermain dengan perasaan dan rasa adalah musisi, sama seperti gitaris klasik atau jazz sangat berhasil. Sungguh menakjubkan bagaimana musisi terlatih secara formal, yaitu klasik, jazz atau lainnya pemain teknis, biasanya para eksponen yang paling tidak efektif rock, pop negara, atau musik blues.Bermain gitar pada dasarnya adalah sebuah sikap, dikombinasikan dengan merasakan dan pengetahuan musik yang diperlukan untuk mengungkapkan apa yang Anda ingin bermain. Jangan tertipu dengan mengikuti jalan musisi berpotensi besar begitu banyak dan merasa terganggu oleh pemain dicapai lebih. Ketika Anda menyetel ke kesederhanaan pemain blues seperti BB King gitaris yang hebat, Anda tidak bisa membantu tetapi terpengaruh oleh ekonomi tentang catatan, bermain di konteks seperti bermakna, musik penuh perasaan.Bermain gitar memiliki jumlah tak terbatas kemungkinan. Ini adalah instrumen paling mudah beradaptasi bisa digunakan, dan itu perjalanan ke tujuan Anda itu bagian yang menyenangkan.Anda tidak akan pernah berhenti belajar gitar. Setiap kali Anda mengambilnya Anda akan menemukan sesuatu yang baru dan tidak perlu sulit untuk bermain harus relevan! http://budisapt.blogspot.com debbyvrx.blogspot.com

Gitar dan Piano – sebuah perbandingan klasik

0


Lebih lanjut lagi bicara tentang gitar dan piano. Beberapa Gitaris seperti Eddie Van Halen, Paul Gilbert, Joe Satriani dst. Adalah pemain piano dan keyboard juga. Saya sendiri bukanlah seorang pemain piano atau keyboarder yang baik, hanya tau sedikit-sedikit saja, jangan dibandingkan dengan Derek Sherenian, Maxim, atau bahkan Richard Clayderman, jjjjjaaaaaauuuuhhhhhhhhhhhh baaaaaaannnngggggggeeeettt…sobat he he he.
Paul Gilbert(hello Paul, I’m your fans :) ) mengatakan dalam video tutorialnya yang berjudul Terryfying Guitar Trips bahwa lagu “Nothing But Love” diciptakan dengan piano, tapi diakhiri dengan gitar. Disitu dikatakan juga kalau salah satu kelebihan piano adalah: piano bisa dipakai untuk membentuk banyak chord yang bagus dan gitar dipilih Paul karena suaranya.
Bila kita urai lebih jauh perkataan Paul tadi memang benar karena untuk membentuk sebuah chord, Piano jelas lebih variatif karena dengan 10 jari bisa menghasilkan nada semua, sementara gitar hanya dengan 5 jari(sebagai catatan tambahan perlu diketahui juga bahwa teknik tapping gitar tercipta untuk mengatasi kesenjangan ini, maaf saya tidak menyertakan sumbernya karena sudah lupa darimana saya dapat ini). Akan tetapi, kelebihan gitar yang saya rasakan sampai sekarang adalah gitar bisa melatih kita untuk lebih peka terhadap nada, kalo kita bisa menstem gitar dengan baik, kita sudah berada pada wilayah peka nada.Kebanyakan piano harus distem oleh seorang tukang stem piano(catatan: tukang stem piano adalah suatu profesi yang langka), artinya, kita hanya terima jadi saja. Contoh lain bila kita membeli sebuah keyboard misalnya, nada itu sudah tercipta secara elektronis dari pabriknya, tinggal kita bunyikan saja. Mungkin ini yang membuat seorang pemain gitar lebih peka, karena biasa menstem gitarnya sendiri, lebih lanjut lagi. Bila belajar piano, sepertinya seorang pemain gitar akan lebih mudah menyesuaikan diri, daripada seorang pemain piano yang belajar gitar(karena harus belajar menyetem, menekan senar, memetik dst). Hal lain adalah masalah harga, gitar lebih murah daripada piano, ini mungkin yang membuat gitar lebih populer di masyarakat.
Sebagai penutup, saya tidak akan membahas ini lebih lanjut lagi karena bisa memancing perang dunia he he he. Setiap kita bebas menentukan instrument kita masing-masing mau Piano, Gitar, Drum atau lainnya, bebas… semua ada kelebihan dan kekurangan masing-masing, justru dengan kolaborasi itulah masing-masing bisa saling mengisi, sebagaimana kehidupan manusia yang penuh kedamaian dan harmoni dengan kerjasama.

http://budisapt.blogspot.com